Penikmat lagu yang akhir-akhir ini sedang mencari tahu sebuah jawaban yang selama ini hanya bayangan, namun pada akhirnya
jawaban itu terlihat jelas.
Lantas ketika mata memandang memberikan sebuah jawaban pula dari pertanyaan yang diberikan.
Pada akhirnya, si penanya sadar bahwa selama ini sudah cukup untuk memberi yang terbaik namun jawaban apa adanya. Mencoba untuk merubah suasana menjadi senang, putus asa menjadi semangat, menyendiri menjadi ramai, sulit mencari jalan keluar, bosan mencari pembahasan baru, hingga usaha menjadi perjuangan yang prosesnya tidak sia-sia.
Sipendukung penanya selama ini tahu bahwa memiliki hubungan yang lebih dari sahabat, tapi penanya tetap santai dalam menjalani kehidupan karena membiarkan semuanya berjalan seperti air yang mengalir. Suatu ketika penanya sampai dititik jenuhnya, berdialog dengan dirinya sendiri, menghargai apa yang sudah didapatnya, bermuhasabah diri dan mengevaluasi diri, hampir disetiap hari setelah melaksanakan tugas negara.
Berlanjut dalam kurun waktu yang dikatakan cukup lama, memberikan sebuah jawaban yang pasti untuk kepentingan terbaiknya, ia mengatakan apapun hasilnya itulah yang terbaik, namun tidak melupakan proses dari usaha-usahanya yang telah berjuang untuk meniti yang diinginkannya.
Tak mampu berkata, ketika malam bertemulah dengan sebuah lagu yang sangat menghargai waktu, untuk lebih peka terhadap diri sendiri, menyimpan memori-memori, memposisikan fase-fase kenangan, yang sangat mengerti dengannya, dan membuat dirinya untuk mengikuti kata hati selanjutnya jalannya seperti apa. Banyak hal-hal yang dipertimbangkan tapi sedikit demi sedikit jawaban didapatkan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.
Berjalan dan mencari dengan beribu kali menepi, mendaki lagi dan bertemu dengan sinar yang selama ini dicari. Hilal sudah ditemukan, saatnya ikutilah arah itu dengan hati-hati maka jawaban yang sempurna akan ditemukan jika memang benar-benar serius.
Cerita ini mengajarkan sepenuhnya bahwa ikutilah sesuai jalannya tidak perlu terlalu berharap dengan jawaban yang sempurna, menyatukan dua kepala dan dua hati pasti selalu ada permasalahan yang ada didalamnya. Maka mencari yang sempurna itu tidak ada, sempurna itu terjadi jika kelemahan dan kelebihan masing-masing menjadi satu itulah lebih kata sempurna.
Sampai disini, hati berkata aku lelah berjuang sendiri, kalau berjuang sendiri apa jadinya? Maka keputusanpun dibuat dengan berhenti untuk berjuang sendiri, saatnya berbenah diri, untuk bisa bertemu dengan yang sama-sama mau berjuang. Lalu berhenti dengan pura-pura lupa atas penanya dan jawaban yang belum bisa bersama. Jadi mau bertanya apa lagi? dan ada pertanyaan apa lagi? Kalau sudah tahu jawabannya? Semua itu ada waktunya.
Belajarlah memaafkan, tapi jangan melupakan, atau kamu akan tersakiti lagi. memaafkan merubah pandangan, melupakan mengahpus pelajaran. Jangan berpikir kita tidak mampu bertemu individu yang seperti dia, tapi berpikirlah dia tidak akan bertemu individu seperti kita.
Cinta itu bukan soal kamu harus memiliki dia seutuhnya. Jika bahagiannya bukan denganmu lepaskanlah. Jangan egois, pura-pura lupa menjadi langkah yang tepat untuk mu saat ini.
Tetap semangat, omong-omong.. Cita-cita dulu baru cinta-cinta. Tapi kalau dua-duanya mau dijalankan? tidak apa-apa juga sih.. Intinya dengarkan kata hati.
Komentar
Posting Komentar