Setelah sepulangnya pengabdian, aku merasakan menjadi mahasiswa semester akhir, tepat di semester 7 menjadi cerita dan pengalaman baru dalam hidupku, sebelumnya aku hanya mendengar cerita katingku maupun teman satu organisasi diluar kampus, aku menjadi teman cerita dan mendengarkannya dengan
sepenuh hati, ikhlas dan sabar, menjadi pundak untuk mereka kakak-kakak ku ketika bercerita, dan aku turut merasakan apa yang mereka rasakan. Lika-liku yang mereka jalani tidaklah mudah, pasti ada kerikil yang menjadi saksi namun aku salut mereka mampu melewati masa-masa itu semua, kerikil yang membuat mereka menjadi lebih kuat dan mampu untuk bangkit selama titik terendah yang mereka alami. Tidak mudah itu, menurut ku, butuh proses, dukungan, semangat dan dorongan dari orang-orang sekitar, dan mereka adalah orang-orang yang hebat yang mampu membangkitkan kembali semangat mereka untuk mengejar mimpi dan cita-cita mereka.Pada
hari ini, detik, menit, jam dan waktu ini juga, aku merasakan hal yang sama,
aku pernah berpikir mungkin nanti aku akan merasakan seperti yang kakak-kakak
ku rasakanya juga, bedanya mereka lebih dahulu melewat fase ini, aku merasakan
hal yang sama, memang butuh perjuangan, butuh dukungan dari orang-orang
sekitar, butuh semangat yang luar biasa, tentunya dari semua yang dilalui ada
keikhlasan, kesabaran yang diuji dan diminta untuk berbesar hati dalam
melaluinya, mungkin tidak hanya aku yang mengalami fase saat ini, teman-teman
sebaya ku yang sedang semester akhir dan telah selesai melaksanakan pengabdian
pasti merasakan hal yang sama menurutku.
Tentu
saja, ada rasa berat, berpikir tidak ingin di jadikan beban, aku memilih untuk
curhat sama Tuhan, mencurahkan seluruh isi hati yang dirasakan hal ini membuat
ku lebih tenang, namun di sisi lain aku juga memilih untuk berbagi bersama
rekan terbaikku, aku berbagi cerita karena sangat membutuhkan teman untuk
berbagi cerita, berkat nya aku menjadi lebih baik, Tuhan memberi sinyal ke pada
ku, seketika aku berpikir dan teringat
dia, menurutku dia “teman terbaikku” lah yang pantas untuk mendengar cerita ku,
dan aku merasa lebih tenang dan lega, Tuhan menitipkan ketenangan melalui dia,
setelah itu aku bisa bangkit dan seperti biasa lagi, ada banyak jawaban-jawaban
terkait bahasa-bahasa baru yang aku dapatkan dari beliau yang membuat aku bisa
lebih percaya diri. Ini versi ku untuk bisa lebih semangat dan bangkit kembali.
Teruntuk
yang merasakan hal yang sama dengan ku, tetaplah kuat, semangat, jangan pernah
putus asa, jangan mengeluh, tetaplah menjadi versi terbaik menurut dirimu
sendiri, jangan di pendam, curhat lah kepada Tuhan, bila ingin berbagi,
berbagilah cerita kepada teman yang kamu percayai, menangislah jika kamu ingin
menangis, karena air mata yang keluar bisa jadi mengalirnya keikhlasan-keikhlasan
yang sudah kamu lalui selama ini dan itu bisa membuat kami lebih tenang, hal
ini tidak menutup kemungkinan untuk kamu bisa belajar menjadi lebih baik.
Teruntuk
diriku, terima kasih ya sudah mau bertahan, berjuang, aku yakin kamu bisa
melalui fase-fase ini, karena kamu tidak sendirian, tetaplah kuat, semoga di
berikan kemudahan, kelancaran, keberkahan, keikhlasan, kesabaran dan di buka
kan cakrawala sehingga kamu dapat belajar dan lebih banyak pencerahan lagi yang
kamu dapatkan, terima kasih ya sudah kuat, tetaplah kuat seperti biasanya, usaha
yang giat berdoa yang kuat. Teruslah berbuat baik kepada siapapun, kalau ragu
coba lebih percaya diri lagi, kamu mampu menghadapinya, ayo coba lagi dan
jangan pernah ngeluh ya, pasti bisa. Sekali lagi terima kasih banyak ya, kamu
hebat, aku bangga dan sama kamu.
KP,
29 Agus 2020 09.57 WIB
Komentar
Posting Komentar